Melawan Paham Radikal di Dunia Virtual

2019-03-01 0 comments kelkarangroto

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan”

Demikian, amanat para Founding Father yang terangkum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Tahun 1945 untuk menyemangati generasi penerus bangsa akan pentingnya sebuah kemerdekaan. Kemerdekaan di sebuah bangsa menjadi hal yang sangat vital bagi kelangsungan suatu bangsa, karena jika tidak ada kemerdekaan, semua aktivitas masyarakatnya akan dikendalikan oleh kaum penjajah dan tentunya sangat menderita. Maka tidak heran, jika Bung Tomo pernah mengatakan, bahwa “kita tunjukan bahwa kita adalah orang yang ingin merdeka. Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka”.

            Memang, secara de facto dan de jure Indonesia sudah merdeka, tapi dari aspek ideologi masih belum sepenuhnya merdeka. Sebab, masyarakat Indonesia masih lemah tentang pemahaman nilai-nilai Pancasila dan keagmaan, sehingga mudah dipengarui oleh paham-paham radikal. Paham-paham radikal kian hari, kian memprihatinkan bagi keamanan bangsa Indonesia. Lihat saja peristiwa 5 kasus terror yang terjadi di Indonesia pada bulan Mei 2018 lalu. Di antaranya adalah bom di 3 gereja di Surabaya, bom di Polrestabes Surabaya, terror di Mako Brimob Jawa Barat, bom yang melanda Rusnawa Woncolo Sidoarjo, dan penyerangan terduga teroriske Mapolda Riau. Hal ini, disinyalir dan  dilatar belakangi dengan pemahaman yang salah akan hakikat ber-negara dan ber-agama, maka mereka menghaalkan segala cara demi tujuan mereka.

            Di era milenial ini, penyebaran paham-paham radikal yang dulunya masih bersifat manual—membuat halaqoh-halaqoh—tapi, kini merambah di dunia virtual (Red: dunia maya). Penyebaran dengan media ini tentu sangat efisien, karena hampir setiap hari semua masyarakat Indonesia berselancar di dunia virtual, baik untuk bekerja, belajar, maupun aktivitas lainya, sehingga mempermudah mereka menyebarkan paham-pahamnya.

            Senada dengan itu, dengan adanya internet, maka semua kalangan masyarakat sangat mudah mengakses informasi-informasi, karena tidak terbatas oleh ruang dan waktu, dengan menggunkan smartphonenya. Akan tetapi, dibalik kemudahan tersebut tersimpan beberapa hal yang sangat membahayakan, baik bagi orang lain maupun diri sendiri. Alih-alih masyarakat dalam berselancar di dunia maya tidak memfilternya, maka mereka dengan sangat mudah akan menghasut dan mengadu domba masyarakat Indonesa dengan berita hoax dan SARA.    

            Maka dari itu, perlu adanya tindakan-tindakan represif dan konkrit agar paham-paham tersebut tidak semakin menjamur di bumi pertiwi. Salah satu metode yang perlu digunakan adalah dengan menyebarkan pesan-pesan positif yang bernuansa perdamaian. Karena, berdasarkan teori propaganda sesuatu yang dimunculkan atau digembar-geborkan ke ranah umum secara terus menerus, maka seolah-olah hal tersebutlah yang benar, terlepas hakikatnya memang benar atau tidak. Dengan demikian, perlu adanya penyebaran pesan-pesan perdamaian secara konsisten ke dunia virtual.

Lawan paham radikal

Sudi tetap berusaha jujur dan ikhlas

Tak usah banyak bicara kerja trus kerja keras

Hati teguh dan lurus pikir tetap jernih

Bertingkah laku halus hai putra negri

            Jika kita memahami dan merenungi lagu yang telah diciptakan oleh A. Simanjuntak tersebut, seharusnya masyarakat Indonesia, khususnya para pemuda harus semangat dan pantang menyerah dalam menghadapai segala bentuk penjajahan di bumi pertiwi, tanpa terkecuali. Kelompok-kelompok yang menyebarkan paham-paham radikal di Indonesia juga termasuk dalam kategori penjajah, karena telah menghalang-halangi Negara Indonesia untuk menggapai tujuanya—keadilan sosial bagi seluruh rakyat—, maka penjajah tersebut harus dibumi hanguskan.

            Dalam konteks ini, pemerintah merupakan elemen masyarakat yang sangat berpengaruh dalam membasmi penjajah tesebut. Jangan sampai aparatur spil negara bekerja sama dan menerima gaji dari kelompok yang menolak Pancasila sebagai idologi negara. Perlu disadari oleh seluruh rakyat Indonesia, bahwa Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI adalah harga mati, jadi tidak bisa ditawar-tawar lagi. Maka, konsekuensi logisnya adalah tidak boleh ada gerakan-gerakan yang berembel-embel agama dan idiologi lain untuk meruntuhkan NKRI.

            Di samping itu, pergerakan mereka di dunia virtual juga harus di lawan. Meskipun penyebaran-penyebaran pesan damai sudah dilakukan secara terus menerus di dunia virtual, tapi juga harus ada formulsi khusus. Di antaranya adalah membubuhkan semangat nasionalisme di dalam pesan-pesan tersebut. Sebab, dengan membubuhkan semangat tersebut, akan menjadi kekuatan bagi masyarakat Indonesia dalam melawan paham-paham radikal, terkhusus ketika berselancar di dunia virtual. Wallahu a’lam bi al-shawaab. 

Oleh: Ahmad Asrori

Pengajar Lembaga Pendidikan Monash Institute Semarang dan Mahasiswa Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Walisongo Semarang